Agen Ganda

agen

Agen Ganda

Pasaran Bola Taruhan – Saat membaca judul artikel saya, pasti ada yang berpikir mengenai sosok pria atau berpakaian rapi, dengan setelan hitam nan klimis, dengan gerak-gerik yang terlatih dan sangat pintar bersilat lidah dalam mencapai target misinya. Terkadang bila sang agen adalah pria dia akan berlagak manis dan memikat setiap wanita yang ada didekatnya untuk mendapatkan informasi. Bila sang agen adalah wanita maka dia akan mengandalkan kecantikan dan keanggunan untuk menjerat lelaki dengan cara yang halus, teramat halus. Agen ganda memanfaatkan kelebihan mereka dalam interaksi sosial, entah lelaki ataupun perempuan, sosok agen ganda pasti memiliki karisma dan kekhasannya tersendiri.

Dalam artikel kali ini, saya tak akan membahas beberapa nama agen ganda yang sukses seperti Matahari dan kawan-kawannya. Artikel ini akan membahas kehadiran agen ganda, yang ada-namun tiada dalam transfer seorang pemain ke klub lainnya. Kesamaan mereka ada pada anything but mission. Peran agen ganda samar-samar dan tak menunjukkan bukti fisik, hanya bisa diperkirakan. Sungguh naïf bila kita tak memperkirakan peran agen ganda dalam urusan transfer sepak bola. Pernahkah diantara kita ada yang mengaitkan pertimbangan seorang pemain untuk bergabung dengan klub lain adalah karena alasan peran agen ganda – disamping faktor yang umum seperti uang dan gelar? Untuk memberi contoh, kita perlu meregangkan badan sejenak, rileks, meminum secangkir kopi yang ada dihadapan kita dengan pelan. Mari kita berkunjung ke London Barat, tempat dimana Chelsea dan Fulham bermarkas. Kita akan fokus sejenak dengan tim yang dimodali oleh raja minyak dari Rusia, Roman Abramovich. Chelsea sangat royal dalam membelanjakan uang yang dimiliki Roman, silih berganti pemain datang dan pergi. Beberapa pembelian pemain menjadi legenda, seperti Petr Cech, Lampard, Didier Drogba, beberapa lainnya seperti memberikan uang secara Cuma-Cuma pada klub lain, pemain seperti Mateja Kezman, Adrian Mutu, Del Horno, Andriy Shevchenko sangat cocok dijadikan contoh.

Dalam sejarah pembelian pemain Chelsea, ada satu fakta yang menarik, yakni tentang keberadaan pemain Brazil di kubu Stamford Bridge. Sejak Jose Mourinho menjadi manajer yang mengakhiri puasa gelar the pensioners di tahun 2005, Chelsea hampir tak pernah mendatangkan satupun pemain Brazil. the blues hanya mendatangkan seorang Brazilian sebagai tactician bukan sebagai pemain, sedangkan pemain yang berbahasa Portugal yang pernah didatangkan adalah orang Portugal asli, bukan warga negara yang doan karnaval itu. Namun ada yang menarik, satu pemain Brazil akhirnya datang di tahun 2010. Dia adalah Ramires, pemain Brazil yang sebelumnya memperkuat klub Portugal, Benfica. Banyak yang menilai kalau Ramires adalah satu dari sedikit pemain Brazil yang akan awet di liga Inggris karena posisinya hampir mirip dengan Gilberto Silva. Tak dinyana, setahun kemudian seorang David Luiz datang menyusul dan setahun kemudian anak muda bernama Oscar turut menjejakkan kakinya di London Barat. Aneh? Bagi saya iya, karena selama ini Inggris dikenal sebagai tanah yang tak ramah bagi Brazilian. Naïf kalau kita menafikan peran Ramires untuk kedatangan David Luiz, keduanya adalah rekan setim yang akrab di Benfica. Oscar yang datang di tahun berikutnya pasti akan merasa nyaman bila memiliki dua rekan setim dari Brazil. diantara klub yang menawarnya, Chelsea adalah satu-satunya klub Inggris yang memiliki dua orang pemain Brazil. kedatangan Luiz dan Ramires di Stamford Bridge setidaknya masuk dalam pertimbangan Oscar, bahkan bisa jadi kedua orang ini yang menjadi mediator terselubung dalam transfer Oscar. Bayangkan bila anda merantau keluar negeri dan bertemu dengan teman sekampung, bagaimana rasanya? Menyenangkan bukan? Tahukah anda bila sekarang loker di ruang ganti ketiga pemain ini saling berdampingan? Peran ganda ini yang mungkin sedang dijalankan de Gea saat merayu Thiago Alcantara, silahkan anda googling “nos vamoz en Manchester”, anda akan sadar bagaimana peran agen ganda David de Gea. Bila proses transfer Thiago berhasil, artinya de Gea sukses menuntaskan “misinya”.